Malam ini begitu dingin
terasa. Bekas rintik hujan masih membekas di daun-daun yang tak pernah
kedinginan meski hujan membasahi seluruh permukaannya. Tanah basah bahkan jemek
d mana-mana. Siapa pun pasti enggan untuk sekedar keluar melihat heningnya malam.
Kunang-kunang pasti akan sedikit memberi cahaya d gulitanya jalan-jalan sawah
ini. Namun,kunang-kunang pun enggan untuk keluar dari peraduannya karena dingin
ini benar-benar menusuk tulang.
Saatnya aku keluar meski
sebenarnya dalam hati ini berkata untuk tetap tinggal di tempat ternyaman yang
ada d seluruh permukaan bumi ini. Dingin,gelap gulitanya persawahan sekitar,
dan jemeknya tanah malam ini bukan lah alasan-alasan briliant untuk tetap
tinggal.
Ku longok sebentar keadaan
luar peraduanku, rasa ini mengikatku seolah-olah tubuh ini tertancap paku emas
yang membuat dewa siwa pun tak dapat membuat aku beranjak. Malas dalam
pikiranku, tidak ikhlas dalam hatiku.
Tugas ini, tugas turun
temurun dari nenek moyangku kembali bergelayut dalam serabut-serabut saraf
otakku. Hanya itu yang bisa mengalahkan dewa siwa untuk mencabut paku emas
dalam tubuhku. Sehingga, aku pun segera beranjak dari singgasana lamunanku.
Nenek-kakek,kenapa kau
wariskan tugas ini padaku. Hidup d kasta tertinggi membuat aku sedikit menyesal
telah d lahirkan d dunia ini. Dulu, saat aku di lahirkan tak pernah terbersit
bahwa aku mempunyai tanggung jawab yang luar biasa besar d pundakku. Hidup
nyaman, tak pernah kekurangan membuat aku merasa bahwa aku tak akan pernah
mengalami akhir hidup d dunia ini. Untuk waktu yang lama aku menikmatinya.
Kehidupan yang luar biasa. Mungkin tak ad makhluk di dunia ini yang seberuntung
aku.
Hidup bersama keluarga
besarku,membuat aku tau akan tugas dan kewajibanku saat aku dewasa nanti. Saudara-saudaraku
telah menjalankan tugas mereka masing-masing. Kini, saat tanda-tanda kedewasaan
sudah muncul dalam diriku maka saatnya aku bersama mereka mengemban tugas.
Aku mulai membuka pintu
singgasanaku, whuussh,,kupikir angin kutup utara terhembus tepat di seluruh
tubuh kecilku. Bisa di katakan sebagai ucapan selamat datang di kehidupan dunia
alien yang sebelumnya tak pernah aku kenal sebelumnya.
Mulai aku berpijak sejenak d
tempat ini seakan-akan aku tak akan pernah kembali. Dan aku akan mengikuti ke
mana angin kutup ini mambawaku. Aku mulai berdamai dengan angin dingin ini dan
keadaan sekitarku yang mungkin sedikit tak bersahabat.
Kulihat mulai tampak
cahaya-cahaya indah memberikan secercah harapan untukku. Tentu saja bukan cahaya
kunang-kunang yang kupikir dengan hawa sedingin ini mereka tak akan menyalakan
lilin kecil d tubuh mereka. Mulai kudekati cahaya itu. Indah,..
Namun, disitulah tugasku
menanti. Disitulah saudara-saudaraku menjalankan tugas mereka seperti halnya
aku. Mungkin bukan kata "tugas" yang tepat untuk hal yang satu ini.
Kupikir "Kutukan" lebih sesuai. Kutukan takdir yang harus kami terima
dari nenek moyang kami. Entah dosa apa yang telah nenek moyang ku lakukan dulu
di masa hidupnya sampe aku dan saudara-saudara ku juga harus ikut
menanggungnya.
Baru aku tau bahwa kehidupan
yang aku jalani saat ini hanyalah sebuah
bayaran yang harus aku bayar atas kehidupanku sebelumnya yang begitu nyaman.
Setimpal, tentu tidak kurasa. Malam ini lah penentuan hidup dan matiku. Jika
aku bisa melaksanakan "tugas" penting itu maka aku akan kembali d
kehidupanku yang bak surga di dunia. Tapi jangan tanya jika aku tak mampu
menyelesaikan "tugas" itu. Sang fajar akan dengan sendirinya menjawab
pertanyaanmu.
Saatnya aku menghapus kutukan
sedikit demi sedikit tentu saja dengan harapan membuncah di dadaku. Aku
berpindah dari kerdip satu ke kerdip
yang lain sambil bergelut dengan waktu hanya untuk mendapatkan cinta sejatiku
yang akan menemaniku di surga dunia nanti. Tugas yang luar biasa dan sangat
heroik kurasa. Bahwa ternyata aku d ciptakan untuk hal ini menemukan cinta
sejatiku. Itu tugas yang d turunkan nenek moyang padaku,mungkin saja nenek
moyanku adalah Cupit dewi cinta bersayap itu dengan panah di tangannya.
Dibalik tugas dari surga
untuk menemukan dewi amorku sendiri, kutukan besar dan mungkin tak akan bisa
terhapus bagi siapapun yang tidak bisa mengemban tugas surga ini dengan baik.
Mati tanpa cinta. Tragis, miris dan membuat semua makhluk hidup mringis
menertawakan siapa saja yang gagal dalam tugasnya.
Aku kembali berputar,berputar
dan berputar. Namun, masih juga tak kutemukan dewi amorku. Dalam pasrah kuliat
saudaraku telah menemukan pasangan hidupnya. Itu lah saat membahagiakan karna
mereka akan kembali ke surga dunia itu lagi. Sedangkan aku?...
Terus kucari bidadari
kecilku,namun lagi-lagi aku tak beruntung. Jam pasir sepertinya hampir habis,
tak juga aku menemukan "dia". Saudara-saudaraku telah kembali bersama
para amor mereka masing-masing.
Di bawah kerdip kecil yang
sebentar lagi mati aku menggantung asa jika pengorbananku semoga tak akan
sia-sia. Jika memang sudah waktuku, akan kulepas baju kebesaranku sebagai
bentuk pasrahku kepada Sang Pencipta. Tanda aku sudah menjalankan takdirku. Pergumulan
hidup dan mati telah aku jalani dengan sepenuh hati. Meski sebenarnya dalam
hati ini mengiba kenapa raga ini tak seberuntung mereka saudara-saudaraku.
Jatah hidupku, takdir hidupku. Itu jawabannya.
Jam pasir telah terguling,
fajar mulai menyingsing. Saatnya aku berdamai dengan dunia agar bumi bisa
menerima raga letihku. Aku sudah coba apa yang aku bisa. Aku sudah beri aku
punya arti. Namun aku tak kuasa menampik takdir ini. Mungkin cinta sejatiku
sudah menunggu di surga akhirat sana..akan ku lepas baju kebesaranku,tapi akan
ku pakai sayap yang telah lepas ini untuk terbang menghampiri "dia"
di surga..
Mataku mulai pudar,putih
seisi jagad raya ini..saatnya aku pergi..Tak ada lagi Rone di sini..Perkenalkan
La'Rone nama ku.
By my lovely "macankecil"
No comments:
Post a Comment